Haruskah Ada Alasan Untuk Berhijrah?



Assalamu’alaikum, sahabat shalih shalihah. Semoga selalu dalam lindungan-Nya, Aamiin. It’s the first time I try to type down my opinion on my blog dan gak tahu caranya bikin intro haha, but i’ll do my best ya, Bismillah.

Hijrah. Hijrah itu pindah, meninggalkan, menjauhi atau berpisah dari sesuatu dengan kebencian, menuju sesuatu yang Dia sukai atau cintai. Banyak yang menggunakan kata ‘Hijrah’ untuk menggambarkan kondisi seseorang dari yang dulunya tidak menutup aurat dengan sempurna sekarang jadi bergamis dan berjilbab syar’i, yang dulunya sering nongkrong di angkringan sampe tengah malem dan sekarang jadi rajin ikut kajian di Masjid meskipun cuma ingin dapet takjil gratis pas bulan Ramadhan, dan perubahan-perubahan lainnya ke arah yang lebih baik.

Ketahuilah bahwa hijrah adalah sesuatu yang wajib kita lakukan sebagai umat islam agar iman kita bukan iman warisan. Lalu apa yang menyebabkan seseorang berhijrah? Apakah dia harus mendapat cobaan dulu baru dia berubah, atau dia sedang baik-baik saja lalu mendapat hidayah untuk berubah? Dan apakah harus ada alasan untuk kita berhijrah?

Dari hasil diskusi saya dengan beberapa sahabat yang lebih dulu terjun dalam dunia hijrah yang Masya Allah benar-benar menginspirasi sekali, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jadi, apa alasan mereka berhijrah? Salah seorang sahabat saya menjawab bahwa dia berhijrah karena dia tidak ingin Allah mempertanyakan kepada orang tuanya kenapa mereka tidak bisa mengajarkan anaknya untuk menutup aurat.

“Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin di antara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang tentang kepemimpinannya.” (HR Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829 dan yang lainnya).

Alasan lainnya adalah dia percaya bahwa jodoh adalah cerminan diri. Maka dari itu kita harus sibuk memperbaiki diri untuknya dan mendoakan dia yang kelak menjadi jodoh kita juga sedang sibuk memperbaiki dirinya untuk kita, hingga kita dan jodoh kita dipertemukan dalam ikatan yang halal. Aamiin. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur ayat 26).

Lain lagi cerita dari salah seorang sahabat yang paling memotivasi saya untuk berubah. Dia memang dibesarkan dalam keluarga yang agamis. Ibu dan kakak perempuannya berjilbab syar’i, yang memiliki banyak teman shalihah, yang selalu rajin ikut kajian, yang selalu ini itu ini itu untuk menggapai ridha Allah. Lalu bagaimana dengan dia? Tentu dia juga seperti itu. Tapi apa alasannya? Hanya karena dia malu dengan ibu dan kakak perempuannya yang seperti itu, maka dia juga harus menjadi seperti itu. Dan dia sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban yang harus dilakukannya, sekaligus membuktikan bahwa imannya bukan iman warisan.

Pernah suatu hari dia bertanya kepada saya kenapa saya berubah. Dan waktu itu saya menjawab dengan jujur bahwa saya tidak memiliki alasan tertentu untuk berhijrah. Salahkah? Dia tegas menjawab tidak. Tidak salah jika kita tidak memiliki alasan untuk berhijrah. Kenapa? Karena hijrah itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Allah tidak pernah menyuruh kita untuk memilih berjilbab atau tidak, memakai jilbab yang menutup seluruh tubuhnya atau hanya menutup rambutnya, bercelana jeans ketat atau bergamis yang menutup aurat. Karena jelas itu diperintahkan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS. An-Nur ayat 24-31.

Jadi, apapun alasan kita untuk berhijrah itu benar selama masih dalam koridor islam. Tidak punya alasan pun tidak menjadi masalah. Jangan sampai kita berhijrah hanya untuk mengharap pujian dari orang lain. Naudzubillah. Selalu khusnudzon kepada Allah, percayalah bahwa semua yang telah diperintahkan oleh Allah itu demi kebaikan kita sebagai hamba-Nya. Mari kita sama-sama berfikir sudah berapa banyak nikmat yang telah kita dapatkan, sudah berapa banyak rezeki yang kita terima, sudah berapa banyak pertolongan yang kita butuhkan, sudah berapa banyak doa yang sudah Allah kabulkan. Mari kita sama-sama berhijrah, memperbaiki diri, menjalankan semua perintah-Nya dan Sunnah Rasulullah untuk mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan kelak berada dalam surga-Nya. Aamiin.

Sekian the first post dari saya, tunggu post-post menginspirasi selanjutnya dalam keadaan diri yang lebih baik dari sekarang. Wassalamu’alaikum, sahabat shalih shalihah :)

Komentar

  1. Subhanallah. Semangat berhijrah ukhti. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menuju jalanNya..Aamiin

    BalasHapus
  2. Semangat sun... d tunggu coretan brmanfaat brikutnya.. (y) baru tau jg gua slain hobi balap mtor y sneng nulis jg t.. wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. daripada balap motor aku lebih milih umberella girl sih

      Hapus
    2. Subhanallah.. Alhamdulillah nggk nyangka

      Hapus
    3. Sini ku kasih tanda tangan, gratis dah 😏

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regards

Tatkala Pacar Berhijrah

Hidayah Itu Mahal