Munajat Cinta
Assalamu’alaikum, wahai Ukhti yang
sedang mendamba jodohnya. Semoga cepat dipertemukan, Aamiin.
Bagi sebagian akhwat yang mengalami
fase kejombloan yang hakiki, dari lahir misalnya. Khitbah adalah sesuatu yang
sangat diimpikan. Menerka-nerka seperti apa ikhwan yang akan mendampingi kita
selamanya. Ada pula yang siang malam menyelipkan kata jodoh dalam doanya.
Berharap suatu hari nanti ia ditemukan oleh seorang yang dapat menuntunnya ke
dalam surga.
Tapi tidak semua akhwat seperti
itu, apalagi ia yang sudah beberapa kali menerima tawaran khitbah dari seorang
ikhwan, tapi terus-menerus ia tolak. Pernah suatu kali ada seseorang sahabat yang
berkonsultasi masalah cintanya ketika ia menerima pesan Whatsapp dari seorang
partner satu organisasinya. Sang ikhwan menulis pesan yang bisa dikatakan
berkelas, berbeda dengan ikhwan-ikhwan sebelumnya. Seperti, “Apakah kamu sudah
mengistiqomahkan sebuah nama dalam doamu? Jika belum, bolehkah aku dan
keluargaku bersilaturrahmi ke rumahmu?”. Ah, baper, kan? Tapi lagi-lagi ia menolak,
karena sebenarnya dalam doanya memang sudah ada nama yang ia istiqomahkan, dan siapa yang tahu jika nama yang ia istiqomahkan itu juga melakukan hal yang sama?
Jodoh itu mu’amalah, sesuatu yang
berada di area yang dikuasai manusia dan manusia dihisab atasnya. Bukan tentang
siapa yang mengkhitbah lebih dulu, tapi tentang siapa yang diyakini sebagai
jodohnya lewat doa.
Cinta itu fitrah, dan jangan nodai
fitrah itu dengan dosa. Pacaran misalnya. Tapi asal kita tahu saja, wahai Ukhti.
Memandang seseorang yang bukan mahramnya itu zina mata, atau memiliki perasaan
yang belum boleh dirasakan itu pun bisa jadi zina hati. Ah, memang sulit
menjadi single lillah.
Jika kita belum bisa seperti
Khadijah yang menyampaikan perasaannya lebih dulu kepada Rasulullah melalui
Nafisah sebagai mak comblangnya, atau seperti Aisyah yang memang sudah
ditakdirkan Allah menjadi pendamping dunia akhirat untuk Rasulullah melalui
firman-Nya. Mari kita mencoba berikhtiar dengan hal yang lebih sederhana, yaitu
doa. Karena jodoh itu dicari di ujung sajadah, bukan dengan mengambil kembang
pengantin saat kita datang di sebuah walimah.
Jika hati kita sudah menyimpan
sebuah nama, sampaikanlah kepada Sang pemilik hati. Meskipun sebenarnya Allah
tahu isi hati kita, tetap sebutlah ia dalam doa. Bermunajatlah dengan mesra di
sepertiga malam terakhir, atau di waktu Dhuha. Karena Dhuha itu untuk meminta
rezeki, dan rezeki tidak selamanya tentang materi. Jodoh yang shalih pun
termasuk rezeki, kan?
Kriteria setiap akhwat pun
berbeda-beda, tapi banyak dari kita pasti berharap mendapatkan jodoh yang
shalih, yang shalatnya selalu berjamaah di Masjid, yang celananya tidak isbal,
yang rambutnya tidak qaza, yang memelihara jenggotnya, dan apa pun yang sunnah
ia lakukan. Tapi, hey, mari kita ambil cermin, kemudian bercerminlah. Apakah
kita pantas mendapatkan jodoh yang seperti itu sedangkan kita sendiri bukan
akhwat yang shalihah? Jangan membuat malaikat tertawa karena mendengar doa kita
itu. Sebelum kita berani meminta jodoh yang sempurna akhlaknya, alangkah lebih
baiknya kita memperbaiki apa yang menjadi kekurangan kita agar kita pantas
bersanding dengan seseorang yang kita inginkan.
Tapi doa itu pun belum tentu akan
langsung dikabulkan oleh Allah, mungkin ditunda sampai waktu yang telah Allah
tentukan, atau bahkan doa itu tertolak karena sebenarnya Allah sudah menyimpan
satu orang ikhwan yang lebih baik untuk kita. Mari kita berkhusnudzon kepada
Allah dan tetap berdoa kepada-Nya. Karena mendoakan adalah cara terbaik mencintai dalam diam.
Demikianlah, semoga post kali ini
dapat menginspirasi Ukhti yang sedang menyimpan rasa. Tunggu post-post
inspiratif lainnya, ya. Wassalamu’alaikum :)
P.s. : Kudengar akhir-akhir ini sahabatku itu mulai saling
mengode satu sama lain dengan seseorang yang ia istiqomahkan. Ah, betapa ajaibnya
doa itu.




Nice post (y)
BalasHapusLanjutkan terus ukhti 😸😸
Uluh uluh... temanya euy... 😄😀👌
BalasHapus