Hidayah Itu Mahal
Assalamu’alaikum,
wahai para pencari hidayah. Long time no see, ya. Setelah sekian lama tulisan
ini terabaikan dan mengalami beberapa kali perombakan, akhirnya bisa selesai
juga haha. Sebenernya ada cerita dibalik tulisan ini, ya meskipun semua tulisan
di blog ini ada ceritanya sih. Tapi ini yang paling bikin baper berkepanjangan.
Tapi yaudah lah ya, toh nggak penting juga buat readers wkwk. Tulisan ini juga
menjadi debut blog ini dengan nama Choco Banana. Please jangan nanya kenapa
bisa nama makanan. Doain aja semoga istiqomah pake nama itu ehehe. So, langsung
aja nih. Cekidot !
Kita adalah manusia yang hidup di fase akhir zaman,
fase ketika banyak dari kita sadar akan kehidupan yang sebentar lagi akan
berakhir. Kita berlomba-lomba memperbaiki diri hingga banyak dari kita yang
memutuskan untuk berhijrah. Tapi di tengah musim hijrah seperti ini, tidak
sedikit pula yang memilih jalan yang berbeda. Perbedaan jalan itu terkadang menyimpang,
dan secara perlahan membuat kita berjalan semakin jauh dari syariat hingga tidak
sadar ternyata kita sudah berada di ujung jalan. Tidak ada satu penolong pun,
kecuali Dia dengan hidayah-Nya.
Hidayah itu petunjuk, sebuah jalan yang akan membawa
kita pada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Hidayah dapat
berasal dari mana saja dan dari siapa saja yang dijadikan perantara oleh-Nya.
Hidayah juga dapat diterima oleh siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tapi sadarkah
kita bahwa hidayah itu datang setiap hari? Mungkin kita saja yang tidak
menyadari, atau pura-pura tidak menyadari, atau menyadari tapi mengabaikan.
Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan,
karena itu manusiawi. Dan ketika kita melakukan kesalahan, bersyukurlah jika
masih ada seseorang yang mengingatkan kita. Karena itu berarti bahwa masih ada
yang peduli dengan kita. Terkadang, ketika seseorang mencoba menasehati kita
dengan baik, kita masih tetap merasa tersinggung. Kita sibuk mencari
pembenaran. Lalu jika sudah mendapatkan pembenaran, kita menganggap pembenaran
itulah yang paling benar. Dan pada saat itulah kita sedang membangun tembok
tinggi pada hati kita yang menghalangi hidayah itu masuk ke hati kita.
Hidayah itu mahal. Terkadang kita harus membayarnya
dengan kehilangan, kekecewaan, dan penyesalan yang begitu besar. Pembenaran
yang kita yakini nyatanya tidak bisa membawa kita kembali menuju ke jalan yang
seharusnya. Kebenaran yang hakiki tentunya berasal dari Al-Qur’an dan Hadits
yang kita terima dengan akal dan hati nurani kita. Tapi ketika akal dan hati
nurani kita tertutup oleh tembok yang kita bangun sendiri, maka tidak akan bisa
sebuah hidayah kita bayar dengan murah.
Ada seorang wanita yang baru masuk islam setelah
menikah dengan laki-laki muslim, sedangkan dia berasal dari keluarga non-muslim
yang taat, ayahnya pun seorang pendeta. Jika dibayangkan, bagaimana bisa anak
seorang pendeta yang taat beragama bisa jadi muallaf? Terlepas dari suaminya
adalah seorang muslim, dia mengaku bahwa menjadi muallaf adalah keinginannya
sendiri tanpa ada paksaan dari siapa pun. Allah memberikan hidayah pada siapa
pun yang Dia kehendaki, tak terkecuali seorang non-muslim sekalipun. Tapi
hidayah itu dia bayar dengan ditinggalkan oleh keluarganya. Dia kehilangan
keluarga yang paling dicintainya, menjadikannya hidup sendiri bersama keluarga
barunya. Tapi dia bertekad untuk menjadi seorang Ustadzah untuk membuktikan
pada keluarganya bahwa dia mengambil keputusan yang benar. Jika seorang muallaf
saja memiliki impian seperti itu, lalu apa kabar kita yang sudah islam dari
lahir?
Hidayah itu mahal. Terkadang tidak hanya sulit
didapatkan oleh seseorang yang tersesat saja, tapi juga sulit didapatkan
kembali oleh seseorang yang sebelumnya pernah mendapat hidayah lalu Allah cabut
hidayah itu darinya. Kenapa? Karena istiqomah itu tidak mudah, yang mudah
adalah istirahat wkwk. (mimin gak becanda -_-)
Jika kita masih sulit menerima nasehat dari orang
lain karena apa yang kita lakukan menurut kita benar, coba tengok seperti apa
lingkungan pergaulan kita. Karena pergaulan itu berpengaruh besar terhadap
perilaku kita saat ini. Dan ketika kita dinasehati, cobalah untuk introspeksi
diri, karena tidak semua yang menurut kita benar adalah kebenaran yang
sebenarnya. Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah bersabda, “Kalimat yang paling
Allah benci adalah ketika seseorang menasehati temannya, ‘Bertaqwalah kepada
Allah’, namun dia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri!’.”
Kualitas iman seseorang tidak selalu berada di atas,
kadang kita jenuh dengan rutinitas ibadah yang selalu sama setiap hari. Kita mencoba
mencari pelarian, seolah-olah hidup kita terkekang dan tidak bahagia. Kita
mencoba mencari sumber kebahagiaan ala kita, lalu tak sadar bahwa kita sudah tenggelam
dalam kebahagiaan yang ternyata palsu belaka.
Ketika iman kita sedang berada di atas, manfaatkan
lah untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala. Tapi jika iman kita sedang
berada di bawah, jangan pernah lari. Tengoklah pada hati kita, mungkin kita
sedang berada jauh dari Allah. Jadilah pencari hidayah, jangan hanya menunggu
hidayah untuk menghampiri kita. Karena hidayah itu harus dijemput, bukan
ditunggu.
Hanya kita yang bisa memutuskan untuk menjemput
hidayah atau hanya akan menunggu hingga ajal yang menjemput kita terlebih
dahulu. Semua tergantung pada kita, tergantung pada akal dan hati nurani kita.
Jangan sampai kita melewatkan hidayah yang seharusnya untuk kita, dan jangan
menjadi golongan orang-orang yang menyadari tapi mengabaikan.
“Surga itu dipenuhi oleh pendosa-pendosa yang
bertaubat. Manakala, neraka dipenuhi oleh orang alim yang munafik.”
Semoga tulisan ini menjadi perantara hidayah untuk
kita semua. Sami’na wa atho’na. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Wassalamu’alaikum :)



baguus sun pointny... 👌 lnjutkn ! tp guyonanny masih garing.. 😆 tingkatkn ! wkk
BalasHapus